Pangkalpinang, kejarberitanews.com – Dalam abad informasi seperti sekarang ada segelintir rekan media yang gemar melakukan propaganda terhadap seorang tokoh. Jika bisa diasumsikan propaganda tadi berbentuk narasi yang positif seperti keberhasilan kinerja profile tadi, maka sudaj selayaknya disikapi biasa saja sepanjang memakai kaidah jurnalistik yang baik dan benar, Rabu 15 April 2026.
Akan tetapi sebaliknya, jika sudah menarasikan penghargaan positif untuk kemudian dicari celahnya hingga sampai ditemukan hal yang negatif. Tentu akal sehat pembaca sekalian akan mampu mengenali, bahwa sang empunya artikel hampir dipastikan memiliki tendensi tertentu beraroma negatif.
“Sebagai seorang praktisi media saya hanya menyoroti tentang karakter “harus viral” yang menghinggapi segelintir dari teman media. Memang benar zaman now segalanya harus viral demi mendapatkan nama hingga jadi terkenal dan selanjutnya dengan bekal nama terkenal tadi, dianggapnya segala sesuatuny jadi mudah untuk mendapatkan akses ke lingkaran utama bisnis disini,” urai Hardi seorang praktisi media yang mengomandoi puluhan web dan kantor berita di kawasan Tuatunu Pangkalpinang Kamis sore.
Selain itu, sambung Hardi, jika diperhatikan, sumber berita yang dimuat oleh teman media yang menayangkan berita ‘miring’ tadi tidak ada yang bisa dikonfirmasi ulang sebab ada kalimat pembatas “meminta namanya dirahasiakan” Sementara profile yang dibidik oleh artikel tersebut ditulis dengan gamblang. Ini kan tidak fair, taruhlah dari tiga sumber tertutup tadi seharusnya dimuat satu sumber terbuka yang mampu dikroscek ulang oleh pihak Gubernur Hidayat Arsani, agar apa? Agar -kalaupun benar- bisa menjadi koreksi bagi style kepemimpinan Pak Gubernur, sekali lagi jika informasi sumber tadi benar dan akurat ya bang,” kata Hardi.
Perlu diketahui, belakangan ini di jagat maya -terutama platform media tiktok- ramai media memposting perihal adanya komando pemasangan status whatsapp di masing-masing perangkat OPD di lingkup Pemprov Babel. Dengan modal wawancara ke sumber tertutup dan mempersepsikan perintah internal tersebut sebagai sebuah perbuatan tercela, maka disusunlah narasi miring soal -sebenarnya- pencapaian positif Gubernur Hidayat Arsani.
Hal ini, lanjut Hardi lagi, bukan saja merugikan pihak Gubernur Babel Hidayat Arsani. Akan tetapi imbas yang paling mengkhawatirkan adalah, terbentuknya persepsi publik akibat narasi miring media tersebut seolah-olah pihak Gubernur Babel otoriter, suka memecat anak buah yang bekerja baik, dan melakukan konsolidasi internal via gadget adalah perilaku yang salah.
“Ini bang saya pikir yang harus diluruskan, agar masyarakat menilai dengan jernih dan jujur apa saja pencapaian positif yang sudah direngkuh oleh Pak Gubernur. Taruhlah orang bilang saya bicara begini karena saya dikenal dekat dengan Gubernur, iya saya akui saya komunikasi dengan Pak Hidayat. Tapi begini, apakah lantas kita bisa mengatakan penghargaan dari KPK RI dikaitkan dengan peristiwa Coincidence ditangkapnya Gubernur Riau pasca mendapat penghargaan? Kan itu sudah narasi jahat saya kira,” protes Anak Muda Babel yang membawahi puluhan karyawan grup media ini.
Kedepannya, tambah Hardi, jika memang benar ingin melakukan koreksi atas etos kerja -seperti perintah internal via WhatsApp- pihak Pemprov Babel, sudah sepatutnya teman media yang akan koreksi lebih bernyali dengan langsung menghubungi pihak Gubernur Babel langsung dan menanyakan soal cara komunikasi via WhatsApp tadi, bagaimana tanggapannya dan itu baru namanya coverboth stories yang sesuai kaidah jurnalistik yang baku.
“Saya berpesan pada teman media tersebut, agar lebih berimbang dalam pemberitaan yang ada, sehabis ini misalnya berani dong memuat soal pencapaian Juara 2 Pemerintah Daerah Terbaik dalam Pencegahan Korupsi melalui Tata Kelola Pemerintahan Daerah tahun 2025 dari KPK RI, kemudian Penghargaan Kategori Pertumbuhan Ekonomi Non-Pertambangan Tingkat Provinsi dari Kementerian Dalam Negeri tahun 2025. Tokoh Penggerak Sistem Perkarantinaan dan Pembinaan Satgas Go Ekspor Hilirisasi Komoditas Pertanian dan Perikanan dari Badan Karantina Indonesia. Serta Apresiasi Mitra Strategis Percepatan Akses Keuangan Daerah dari OJK. Namun saya pribadi menyangsikan hal ini. Jangankan 28 penghargaan yang diperoleh, baru satu saja penghargaan KPK RI kok malah dicari celahnya? Bagaimana Babel akan maju kalau begini? Silahkan mengkritisi tapi harus berimbang dan memakai data valid yang bisa dikroscek ulang oleh media manapun, gitu saja kira-kira,” pungkasnya. (Red)







