Pangkalpinang, kejarberita-news.com – Belum lama ini, Pemerintahan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meraih penghargaan di tingkat nasional sebagai Provinsi Terbaik, atas Penilaian Rasio Tertinggi Film Pendek Jaga Desa level Provinsi tahun 2026. Selain dinyatakan sebagai jawara kontes, tentunya pihak pemenang pasti diundang secara patut dan resmi ke Grand Ballroom Fairmont Jakarta demi bertatap muka langsung dengan Menteri Desa dan Pembangunan Desa Tertinggal Yandri Susanto, Jumat 24 April 2026.
Meski begitu, tak semua pihak senang dan menyambut baik pencapaian kinerja positif Pemerintahan Provinsi Kep Bangka Belitung dibawah kepemimpinan Gubernur Hidayat Arsani. Dan secara akal sehat hal demikian adalah lumrah semata. Berkaca dari Riwayat dalam khazanah Islam tentang kisah Luqmanul Hakim dan anaknya menenteng seekor keledai.

Ketika ditenteng dengan kedua orang berjalan kaki, haters akan bilang mereke berdua sebagai orang bodoh. Sebab untuk apa memelihara keledai, jika akhirnya mereka berjalan. Ketika anaknya yg naik, dibilang kurang ajar. Sebab, membiarkan orangtua berjalan menenteng keledai sementara si anak asyik duduk diatas keledai. Saat orangtua yang duduk diatas keledai, maka pemuja perdebatan seketika bereaksi dengan menuding orangtua sebagai pihak yang sewenang-wenang pada anak kecil, sewaktu keduanya bersama-sama menaiki keledai tadi malah dituding sebagai manusia yang kejam pada hewan ternak, serba salah bukan?
Berlanjut ke pembahasan berita tadi, ada sisi menarik yang bisa dijadikan sebuah renungan bagi siapapun yang merasa dirinya adalah netizen plus 62 yang terkadang merasa dirinya sebagai maha benar dengan segala asumsinya.
Di paragraf ketiga artikel media tersebut -menurut hemat redaksi- dibingkai sebagai berikut; kerap tampil dan menerima penghargaan. Hal ini menimbulkan penilaian publik. Diksi kalimat negatif dengan bingkai positif penghargaan atau reward seperti ini memang bertujuan untuk membangkitkan impuls saraf pembaca kearah Definisi Negativity Bias atau kecenderungan bawaan otak untuk lebih cepat menangkap dan memproses hal negatif dibandingkan hal positif/netral.
Bukan tanpa sebab, jika seorang tokoh publik selalu dibayangi oleh rasa like and dislike dalam fenomena tampil di panggung politik. Dalam teori komunikasi politik, Di era digital, rasa dislike dapat digunakan sebagai alat roasting atau ekspresi ketidakpuasan kolektif terhadap figur politik, bahkan ketika konten yang diunggah membahas hal positif.

Belum lagi ketika diksi kalimat menyentuh hal sensitif kata haus akan pencitraan dan butuh pengakuan. Yang mana hal ini sudah bisa dikategorikan sebagai public roasting dalam paragraf tertentu artikel. Dengan setting goals, terbentuknya opini publik negatif walau berita yang dimuat adalah -jika dibaca sekilas oleh orang awam- bentuknya berita positif tentang pencapaian kinerja positif Gubernur Babel berbuah reward dari Menteri Desa dan Pembangunan Desa Tertinggal Yandri Susanto.
Apalagi, jika dikaitkan dengan pemahaman literasi media yang belum merata tersebar di seluruh Provinsi Kep Bangka Belitung. Kalangan ras terkuat, atau emak-emak misalnya. Bisa kita perkirakan apa yang langsung tertanam dalam alam bawah sadar mereka ketika mendapat asupan artikel yang bertujuan membingkai sebuah informasi agar melahirkan: citra, kesan, makna tertentu yang diinginkan media, atau wacana yang akan ditangkap oleh khalayak.
Memang tidak ada larangan untuk sekedar bernarasi dalam sebuah artikel, namun begitu tidaklah elok jika untuk sekedar menjadi mitra media dalam kerjasama tertentu, kita harus rela “mencubit” objek berita agar yang bersangkutan bisa menoleh dan kemudian pintu privelese terbuka lebar.
Perlu diketahui, Tingkat pendidikan pekerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) masih didominasi oleh lulusan SD ke bawah, yang mencakup lebih dari 40% dari total angkatan kerja. Data terakhir menyebutkan sekitar 40,28% – 42,71%. Jika asumsi ini kita jadikan acuan dalam tugas membentuk opini publik di Bangka Belitung, maka tidak patut kiranya sebagai insan media justru menjejalkan narasi agenda setting ke pembaca.
Memang tidak ada yang dusta dalam artikel yang dimuat tersebut, tapi terkesan mencoba membelokkan fakta dengan halus melalui penyeleksian informasi, penonjolan aspek tertentu, pemilihan kata, bunyi, atau gambar, hingga meniadakan informasi yang seharusnya disampaikan. Dalam hal ini konteksnya adalah reward.(*)







