Media Kejar Berita, Ketika Mitra Jajaran Vertikal dan Investigasi Berjalan Barengan

Berita, DAERAH128 Dilihat

Pangkalpinang, kejarberita-news.com – Di Ibukota penghasil Timah, alias Pangkalpinang ini, tidak banyak media di luar mainstream atau media arus utama yang membuka kantor berita sebagai sarang wartawan ngumpul bareng, rapat dikit-dikit, untuk kemudian membuat rencana proyeksi berita harian mingguan dan bulanan membahas agenda dari pemda setempat atau berdebat mengenai materi wawancara yang paling ampuh untuk membuka topeng dari narasumber. Kantor media tadi juga selain berfungsi sebagai ajang untuk bertemu narasumber berita, makin kesini bahkan teman relasi bisnis yang ingin menyumbangkan kas CSR mereka yang sudah penuh tadi ke pihak media jadi ikutan sering berkunjung. Tentunya dalam bentuk kerjasama iklan berbayar, Selasa 28 April 2026.

Meski begitu, perlu diingat, kantor media adalah kantor yang pekerjanya (mungkin) secara kasat mata sama dengan kantor perusahaan lain. Akan tetapi jika pengelolanya cerdas, dia harus bisa membedakan antara perlakuan ke manusia yang bekerja berdasar perintah atasan alias cuma melahirkan siklus mekanik laksana mesin. Serta perlakuan khusus yang mesti dipraktekan dengan para core atau inti mesin perusahaan, mereka lazimnya lebih urakan bagai seniman. Tapi sesungguhnya merekalah nyawa bagi rekening kantor media tadi.

Mereka yang berkubang di dapur redaksi hampir dipastikan bersifat semau gue, sabodo teuing, mane keneklah bahasa bangka menyebutnya. Jenis mereka para nyawa perusahaan, dikenal spesies super langka, jarang berbicara tapi sekali bicara mereka melahirkan karya jurnalistik. Aturan perusahaan terapkan maksimal empat saja, termasuk dilarang mencuri di kantor misalnya, jika kelebihan maka kreativitas akan mandek dan jika mandek maka rekening akan kering kerontang, jika rekening kering kerontang maka kesejahteraan akan menurun. Begitu kira-kira.

Contoh situasi imajiner seperti diatas tersebut, didapat penulis ketika beruntung mengalami situasi magang selama dua minggu di KKG di Palmerah Barat Jakarta. Tahunnya, kira-kira awal tahun 2001. Dimana -saat itu- dalam kesaksian penulis yang baru berkecimpung dalam dunia imajinasi, ada seorang berambut gondrong yang pakai sendal jepit sedang presentasi tarif iklan berbayar pada sebagian calon investor bagian CSR sebuah Bank Pemerintah. Awalnya diri ini terbengong-bengong melihatnya, tapi ketika diperhatikan siapa yang berbicara, maka diri ini mafhum adanya.

Orang itu adalah Mas Alm Arswendo Atmowiloto, kolumnis sekaligus cerpenis terkenal milik Indonesia. Pantas saja, para Bankir berdasi rapih calon investor yang sedang antri menanam duit itu manggut-manggut setuju.

Mereka sedang memperhatikan value perusahaan yang dijelaskan secara teknis oleh sang maestro, mereka sedang kalkulasi di dalam benaknya memakai rumus Branding sederhana = low budget high impact. Dan mereka tidak melihat penampilan, mereka melihat isi dan value yang ditanamkan oleh karya-karya Grup KKG selama puluhan tahun.

Nah itu contoh saja bagaimana sebuah corporate value begitu penting dalam membangun investasi serta jaringan bisnis kedepannya. Perhatikan saja, kenapa iklan hape Apple sangat jarang dibanding Samsung? Karena Apple menjual value, Samsung masih bermain di branding. Beda kelas bos.

Jika bagan perumpamaan di paragraf atas tadi dipindahkan ke bidang media, maka bisa diringkas seperti ini.

Banyak media berjalan tanpa identitas yang spesifik. Mau jadi lelaki atau perempuan atau Unisex sekalian.

Jika diclustering contohnya, majalah TEMPO dan KOMPAS adalah lelaki, sementara media pro pemerintah (bisa sebutkan sendiri kan?) adalah media berjenis kelamin female.

Di tataran lokal disini, kantor kejarberita sudah memilih identitasnya sebagai media yang memiliki mitra vertikal dengan institusi bidang hukum dan kemasyarakatan. Artinya dunia ketegasan, aturan yang ketat, disiplin dan lain sebagainya pasti menular. Walau tidak sekarang tapi pasti menular.

Menular dalam arti kata adalah, baik pimpinan atau level layer kedua pimpinan di kantor berita yang menjalin sinergitas dengan pihak penegak hukum sangat berpotensi akan jadi mirip. Dalam pengertian positif tentunya. Bukan negatif.

Meski begitu, harus disiasati cara paling manjur mengawinkan bakat kreativitas seorang seniman yang ada dalam diri wartawan, dengan target perusahaan berbasis disiplin, ketegasan dan lain sebagainya.

Memang bukan tugas yang mudah, namun bukan mustahil. Bukankah Bani Israel menganggap remeh tongkat Nabi Musa ketika berdiri di pinggir Laut Merah dikejar ribuan tentara Firaun? Tapi sejarah mencatat, tugas itu berhasil.

So, kantor kejarberita setidaknya saat ini sudah mencoba mengawinkan antara ketegasan, disiplin dengan kreativitas ala seniman dalam balutan nongkrong bareng sepanjang jam kerja. Bukankah kesuksesan platform Facebook dan Apple dimulai dari nongkrong di kantin dan kamar kos barengan? Tidak ada yang tidak mungkin sepanjang niatnya itu baik. (Lukman Hakim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *