Pangkalpinang, kejarberitanews.com – Langkah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang dalam memperkuat pembinaan kemandirian Warga Binaan terus dikembangkan melalui sinergi dengan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Pangkalpinang. Salah satu upaya yang tengah dijajaki ialah pelaksanaan Training of Trainers (TOT) bagi petugas dan Warga Binaan untuk meningkatkan kompetensi serta membuka peluang pengembangan keterampilan yang bernilai ekonomi.
Kepala Lapas Pangkalpinang, Febie Dwi Hartanto, didampingi Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Mulsa Afrianto, dan Kepala Subseksi Pengolahan Hasil Kerja dan Sarana Kerja, Eko Cahyono, mengunjungi Kantor Disnaker Kota Pangkalpinang, Rabu (30/9) sore.
Pertemuan tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus membahas peluang kerja sama dalam penyelenggaraan pelatihan yang dapat mendukung peningkatan keterampilan petugas dan Warga Binaan.

Pertemuan tersebut membahas rencana TOT bersama Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), termasuk pelatihan pengolahan nanas menjadi Dodol Lalatu untuk mendukung pengembangan keterampilan sekaligus rumah produksi olahan nanas di Kelurahan Tuatunu sebagai bagian dari program Kelurahan Binaan Lapas Pangkalpinang.
Febie Dwi Hartanto mengatakan, penjajakan dengan Disnaker merupakan upaya memperkuat pembinaan kemandirian agar lebih terarah dan berkelanjutan.
“Kami ingin keterampilan yang diperoleh Warga Binaan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan. Karena itu, sinergi dengan Disnaker dan LPK penting agar pelatihan sesuai kebutuhan dan memiliki standar kompetensi,” ujar Febie. Kamis, (1/10).
Menurutnya, keterlibatan petugas dalam pelatihan juga menjadi bagian penting agar program pembinaan dapat terus berjalan dan dikembangkan di lingkungan Lapas.
Sementara itu, Kepala Disnaker Kota Pangkalpinang, Amrah Sakti, menyampaikan bahwa pelatihan dapat melibatkan LPK, baik secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan Disnaker, sesuai kebutuhan peserta dan program yang disepakati.
“Pelatihan dapat dilaksanakan melalui LPK, baik mandiri maupun bersama Disnaker. Yang terpenting, materi disesuaikan dengan kebutuhan peserta agar memberikan manfaat nyata,” jelas Amrah.

Di kesempatan yang sama, Eko Cahyono menjelaskan bahwa pelatihan diarahkan tidak hanya pada proses produksi, tetapi juga pengembangan produk agar memiliki nilai ekonomi.
“Petugas dan Warga Binaan tidak hanya belajar membuat produk, tetapi memahami prosesnya hingga mampu menghasilkan sesuatu yang bernilai jual. Ini yang sedang kami siapkan bersama,” kata Eko.
Ia menambahkan, pembinaan keterampilan di Lapas Pangkalpinang telah membantu sejumlah mantan Warga Binaan mengembangkan usaha secara mandiri, di antaranya bidang interior dan pengelasan. Pengalaman tersebut menjadi dorongan untuk terus menyesuaikan pembinaan dengan kebutuhan dunia kerja dan peluang usaha di masyarakat.
Melalui sinergi ini, Lapas Pangkalpinang mendorong realisasi pelatihan dengan instruktur kompeten dan keterampilan yang aplikatif sebagai bekal Warga Binaan untuk kembali ke masyarakat serta mengembangkan usaha secara mandiri. (kp)









