Kembali ke Smaneta, Hantayuda Rasyid Napak Tilas Perjuangan dan Menyalakan Mimpi Generasi Muda

Berita, DAERAH10 Dilihat

Pangkalpinang, kejarberitanews.com — Ada orang yang pergi dari sekolah membawa mimpi. Ada pula yang pulang bertahun-tahun kemudian dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berarti: rasa terima kasih dan sebuah jejak kebaikan, Sabtu 26 September 2026.

Kisah itu tergambar saat Hantayuda Rasyid, pendiri Yayasan Arroyan-HYR Indonesia sekaligus alumni SMA Negeri 3 Pangkalpinang angkatan 1999, kembali menginjakkan kaki di almamaternya.

Kali ini, kepulangannya bukan sekadar untuk bernostalgia. Hantayuda datang untuk meresmikan Masjid Arroyan HYR, masjid yang pembangunannya didukung melalui dana hibah sebesar Rp1 miliar yang ia berikan untuk SMA Negeri 3 Pangkalpinang.

Namun, sebelum prosesi peresmian dimulai, Hantayuda terlebih dahulu kembali menjadi “siswa” di sekolah yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Di hadapan guru, pegawai dan para siswa, ia berdialog dalam kegiatan bertajuk “Kembali ke Sekolah, Menyalakan Mimpi.” Bukan sekadar berbicara soal kesuksesan, Hantayuda justru membawa para siswa menengok kembali perjalanan panjang yang pernah ia lalui.

“Saya pergi membawa mimpi, hari ini saya pulang membawa terima kasih,” ungkap Hantayuda dalam dialog tersebut.

Kalimat itu seolah menjadi benang merah kepulangannya. Sebab, sekolah bagi Hantayuda bukan hanya tempat menerima pelajaran, tetapi juga ruang pertama tempat mimpi, keberanian dan jiwa kepemimpinannya tumbuh.

Sejak sekolah dasar hingga SMA, ia dipercaya menjadi ketua kelas. Saat duduk di SMA Negeri 3 Pangkalpinang, Hantayuda bahkan dipercaya menjadi Ketua OSIS. Aktivitas organisasi dan prestasi yang diraihnya menjadi bagian dari proses yang kemudian membentuk karakter kepemimpinannya.

Perjalanan itu berlanjut ketika ia menempuh pendidikan tinggi. Di Universitas Gadjah Mada (UGM), Hantayuda kembali dipercaya memimpin dengan terpilih sebagai Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UGM.

Bagi para siswa Smaneta, kisah perjalanan tersebut menjadi pelajaran tersendiri. Raka, salah seorang siswa SMA Negeri 3 Pangkalpinang, menyebut perjalanan Hantayuda sebagai cerita yang memberikan inspirasi.

“Cerita Pak Hantayuda sangat menginspirasi. Beliau menjadi sosok teladan bagi kami adik-adik tingkatnya di sekolah. Perjuangan, prestasi dan semua pencapaian beliau sangat luar biasa,” ujar Raka.

*Pulang, Menyusuri Jejak Masa Lalu*

Kepulangan Hantayuda ke Smaneta juga diisi dengan napak tilas. Ia menyambangi satu per satu sudut sekolah yang pernah menjadi saksi perjalanan masa mudanya.

Ia kembali masuk ke ruang kelas yang dahulu menjadi tempatnya belajar. Di sana, Hantayuda duduk bersama Kepala SMA Negeri 3 Pangkalpinang, seolah mengulang kembali potongan cerita yang pernah ia jalani puluhan tahun lalu.

Momen nostalgia semakin terasa ketika ia melakukan simulasi pembelajaran kimia bersama Yusnaida, guru senior yang pernah menjadi wali kelasnya ketika SMA.

Dari ruang kelas, langkah Hantayuda berlanjut menuju lapangan bola Smaneta. Kini, kawasan tersebut telah dilengkapi jogging track yang pembangunannya juga didukung melalui dana hibah yang ia donasikan.

Di lapangan itu pula, Hantayuda menyempatkan diri menyapa para peserta Penerimaan Tamu Ambalan (PTA) yang tengah berkumpul.

Perjalanan kemudian berlanjut ke perpustakaan dan ruang OSIS—dua tempat yang tidak asing bagi seorang Hantayuda ketika masih menjadi siswa.

Bukan hanya pembangunan masjid dan jogging track, dana hibah yang diberikan Hantayuda juga dimanfaatkan untuk pengecatan, pengadaan rak buku serta meja sirkulasi perpustakaan.

*Dari Mimpi Menjadi Warisan*

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan peresmian Masjid Arroyan HYR yang berlangsung di halaman masjid.

Bagi Hantayuda, kepulangan itu seperti sebuah lingkaran yang akhirnya kembali bertemu di titik awal. Dahulu ia meninggalkan Smaneta dengan mimpi yang belum tahu akan dibawa ke mana. Kini ia kembali dengan membawa pengalaman, pencapaian, dan kontribusi untuk tempat yang pernah ikut membentuk dirinya.

Di depan Masjid Arroyan HYR, guru, pegawai dan seluruh siswa kemudian berfoto bersama.

*Sebuah foto yang bukan sekadar dokumentasi*

Di sana ada seorang alumni yang pernah pergi membawa mimpi, lalu pulang membawa terima kasih—dan meninggalkan sesuatu yang dapat digunakan oleh generasi setelahnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *