Bangka, kejarberitanews.com — Rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Bangka Belitung (UBB) Tahun 2026 memasuki hari kedua pada Selasa (11/8/2026). Bertempat di Gedung Balai Utama De Universitaria, Kampus Terpadu UBB, mahasiswa baru mendapatkan pembekalan wawasan kebangsaan melalui materi bertajuk “Ancaman Disintegrasi Bangsa” yang disampaikan oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia (Karo SDM) Polda Kepulauan Bangka Belitung Kombes Pol. Dr. Rimsyahtono, S.I.K., M.M.
Pembekalan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian PKKMB UBB untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa baru mengenai berbagai tantangan yang dapat memengaruhi persatuan dan kesatuan bangsa. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan kehidupan akademik di perguruan tinggi, tetapi juga dibekali wawasan kebangsaan sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
Dalam pemaparannya, Kombes Pol. Dr. Rimsyahtono, S.I.K., M.M. menjelaskan bahwa disintegrasi bangsa merupakan kondisi ketika bangsa terpecah belah dan saling bermusuhan akibat perbedaan suku, agama, maupun pandangan politik. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat melemahkan persatuan dan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurutnya, ancaman terhadap keutuhan negara tidak selalu datang dari pihak luar. Konflik yang terjadi di antara masyarakat sendiri juga dapat menjadi ancaman serius apabila perbedaan tidak dikelola dengan baik.
“Negara bisa runtuh dari dalam bukan karena ancaman musuh luar, melainkan karena konflik antarsesama kita sendiri,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa bentuk perjuangan generasi saat ini telah mengalami perubahan. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata atau bambu runcing melawan penjajah, maka tantangan generasi saat ini hadir dalam bentuk yang berbeda, termasuk penyebaran berita bohong (hoaks), provokasi yang mengandung isu SARA, serta ujaran kebencian di media sosial.
“Perjuangan kita saat ini bukan lagi mengangkat senjata atau bambu runcing melawan penjajah. Musuh terbesar kita hari ini adalah berita bohong, provokasi SARA, dan ujaran kebencian yang beredar di media sosial,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan membagikan informasi tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya dapat menimbulkan dampak serius. Informasi palsu yang tersebar di ruang digital berpotensi memicu kemarahan, kesalahpahaman, bahkan konflik dan perpecahan dalam kehidupan nyata.
Karena itu, mahasiswa diajak menjadi generasi yang cerdas dalam bermedia sosial, tidak mudah terprovokasi, serta membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum menerima maupun menyebarkan informasi. Sikap kritis dan bertanggung jawab dalam menggunakan media digital menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi generasi muda dalam menjaga persatuan bangsa.
Kombes Pol. Dr. Rimsyahtono juga mengajak mahasiswa baru untuk menunjukkan “mental baja”, tidak hanya melalui kedisiplinan dan ketangguhan dalam mengikuti rangkaian PKKMB, tetapi juga melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya terlihat gagah dan disiplin saat mengikuti kegiatan di lapangan. Lebih dari itu, mahasiswa harus mampu menjadi agen perdamaian di lingkungan pertemanan, kampus, masyarakat, maupun media sosial.
Mahasiswa didorong untuk membangun kebiasaan sederhana yang memiliki dampak besar terhadap persatuan, di antaranya menyaring dan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, merangkul dan menghargai teman meskipun memiliki perbedaan pandangan maupun latar belakang, serta melawan ujaran kebencian melalui karya dan kontribusi nyata.
Pesan tersebut menegaskan bahwa menjaga persatuan bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat maupun pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda.
Mahasiswa sebagai bagian dari generasi penerus bangsa memiliki posisi strategis untuk menciptakan lingkungan yang damai dan inklusif. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar menghargai dan memahami satu sama lain.
Pembekalan mengenai “Ancaman Disintegrasi Bangsa” tersebut sejalan dengan tema PKKMB UBB Tahun 2026, yakni “Bertumbuh, Berkarakter, Berdampak.” Melalui materi tersebut, mahasiswa baru diharapkan tidak hanya tumbuh secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, wawasan kebangsaan, kemampuan berpikir kritis, serta kepedulian untuk menjaga persatuan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Rangkaian PKKMB UBB Tahun 2026 menjadi momentum awal bagi 2.905 mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan perguruan tinggi sekaligus mempersiapkan diri menjadi bagian dari sivitas akademika UBB yang berintegritas, berdaya saing, serta mampu menjadi generasi yang menjaga persatuan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara. (Humas UBB)








