Pangkalpinang, kejarberitanews.com – Suasana berbeda terasa di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Pangkalpinang pada momentum bulan suci Ramadhan 2026.
Di tengah keterbatasan ruang dan waktu, pihak lapas menghadirkan secercah kebahagiaan dengan menggelar kegiatan buka puasa bersama antara warga binaan dan keluarga mereka.

Program ini menjadi bentuk nyata pendekatan humanis pemasyarakatan, dengan memberikan wadah bagi para warga binaan untuk berkumpul dan melepas rindu bersama orang-orang tercinta, meski tetap berada di dalam kawasan lapas.
Tak sedikit warga binaan yang memanfaatkan momen tersebut untuk bercengkerama hangat dengan keluarga, bahkan menggendong dan bermain bersama anak-anak mereka yang masih kecil. Tawa polos anak-anak berpadu dengan haru para orang tua, menciptakan suasana yang begitu emosional.
Kepala KPLP Lapas Narkotika Kelas IIA Pangkalpinang, Ziko Lukita ketika ditemui di ruang kerjanya, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan instruksi langsung dari Kepala Lapas sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi psikologis warga binaan.
“Wadah ini tentunya agar warga binaan bisa lebih sering berjumpa apalagi ini momen lebaran, jadi kita pertemukan mereka karena dulu mereka tidak bisa bertemu,” ujar Ziko (2/3).
Dengan jumlah warga binaan yang mencapai 876 orang dari enam blok, pihak lapas menerapkan sistem bergantian agar seluruh warga binaan mendapatkan kesempatan yang sama.
“Sekarang kita pertemukan mereka dan setiap blok dapat, dan sekarang ini yang mendapat itu Blok Depati Amir, besok blok lainnya, pokoknya bergantian agar bisa mereka dapat momen lebarannya di tahun ini,” tambahnya.
Kegiatan buka puasa bersama ini digelar sejak puasa pertama hingga menjelang Hari Raya Idulfitri. Meski dibatasi waktu, yakni mulai pukul 16.30 WIB hingga 19.00 WIB, kebahagiaan tampak jelas di wajah para warga binaan.
Di balik tembok tinggi dan pengawasan ketat, senyum dan tawa sore itu menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan tetap tumbuh. Ramadhan tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap insan, di manapun berada, tetap berhak merasakan hangatnya kebersamaan dan makna memanusiakan manusia.
Penulis: Eji











