Dosen UBB Rancang Model Pariwisata Pulau Kecil Berbasis Ekonomi Biru untuk Bangka Belitung

Pangkalpinang, kejarberitanews.com – Tim dosen Universitas Bangka Belitung (UBB) mengembangkan Integrated Island Tourism Framework (IITF), sebuah kerangka model pengembangan pariwisata pulau kecil yang mengintegrasikan prinsip ekonomi biru, pariwisata berkelanjutan, dan ketahanan wilayah kepulauan. Model ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan dalam perumusan kebijakan pengembangan destinasi wisata pulau kecil di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pesisir.

Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan pariwisata pada Selasa, 20 Oktober 2026, di Hotel Puri 56, Pangkalpinang. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Pariwisata dan Bapperida tingkat provinsi serta kabupaten/kota, Dinas Koperasi dan UMKM, pelaku usaha pariwisata pulau, dan kalangan akademisi.

Penelitian yang dilaksanakan melalui skema RK-PT Tahun 2026 ini merupakan kolaborasi antara tim peneliti UBB dan Politeknik Sriwijaya Palembang. Tim penelitian diketuai oleh Prof. Dr. Devi Valeriani, S.E., M.Si., dengan anggota Marissa Pusparini, SM.B., MPPar., M. Gunawan, S.E., M.E., dan Afrizawati, S.E., M.Si.

Penelitian ini mengidentifikasi potensi wisata alam dan peluang ekonomi lokal di pulau-pulau kecil Bangka Belitung, sekaligus mengkaji berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam pengembangan destinasi. Hasil survei terhadap wisatawan menunjukkan bahwa kondisi destinasi pulau kecil secara umum dinilai cukup baik, dengan skor rata-rata 3,87 dari skala 5.

Daya Tarik Alam Menjadi Kekuatan, Fasilitas Dasar Perlu Ditingkatkan

Penelitian dilaksanakan pada Juni hingga September 2026 dengan memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Tim mengumpulkan data melalui survei terhadap 295 wisatawan dan wawancara mendalam dengan 18 informan, termasuk pelaku usaha di pulau-pulau kecil. Data survei dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), sedangkan hasil wawancara dianalisis secara tematik.

Dari lima aspek yang dinilai wisatawan, daya tarik alam memperoleh skor tertinggi sebesar 4,16, disusul aspek ekonomi lokal dengan skor 4,01 dan keterlibatan masyarakat sebesar 3,84. Sementara itu, fasilitas dasar memperoleh skor 3,74, sedangkan pengelolaan atraksi menjadi aspek dengan skor terendah, yaitu 3,62.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keindahan alam dan peluang ekonomi masyarakat merupakan modal penting bagi pengembangan pariwisata pulau kecil. Namun, penguatan fasilitas dasar dan pengelolaan atraksi masih diperlukan agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara optimal dan berkelanjutan.

Hasil wawancara juga memperlihatkan bahwa aktivitas pariwisata telah membuka peluang pendapatan bagi masyarakat setempat. Peluang tersebut antara lain berasal dari jasa transportasi kapal, penginapan, kuliner, serta penjualan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sebagian nelayan tetap menjalankan aktivitas melaut sembari menyewakan kapal untuk keperluan wisata. Pola ini menunjukkan bahwa pariwisata dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat tanpa harus sepenuhnya menggantikan mata pencaharian utama. Sejumlah pelaku usaha bahkan telah memperluas pemasaran produknya ke luar pulau sehingga peluang ekonomi tidak hanya bergantung pada kunjungan wisatawan.

Ketua tim peneliti, Prof. Dr. Devi Valeriani, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat kondisi alam yang sulit diprediksi. Ketika ombak besar terjadi, aktivitas melaut terhambat dan kunjungan wisatawan dapat menurun.

“Masyarakat pulau kecil hidup dalam ketidakpastian. Saat ombak besar datang, mereka tidak bisa melaut dan wisatawan tidak datang. Penelitian ini menunjukkan bahwa pariwisata yang terhubung dengan usaha lokal bisa menjadi penyangga pendapatan, selama aksesnya aman dan lingkungannya terjaga,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengembangan pariwisata pulau kecil di Bangka Belitung tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga perlu memberikan alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir.

“Bagi Bangka Belitung, ini bukan sekadar soal mendatangkan wisatawan, tetapi soal membuat masyarakat pesisir memiliki alternatif dalam memupuk ekonomi keluarga,” tambahnya.

Meski memiliki potensi ekonomi, penelitian ini juga menemukan sejumlah kendala yang perlu mendapat perhatian. Di beberapa lokasi, pasokan listrik hanya tersedia pada malam hari, akses infrastruktur masih mengalami kerusakan, dan fasilitas makan serta minum masih terbatas. Kondisi ombak besar juga dapat menghambat perjalanan menuju destinasi tertentu.

Selain persoalan infrastruktur dan keselamatan perjalanan, pengelolaan sampah masih menjadi tantangan. Praktik pembuangan dan pembakaran sampah masih ditemukan di sejumlah lokasi. Akses terhadap pelatihan bagi pelaku usaha, termasuk terkait perizinan, sertifikasi halal, dan pengemasan produk, juga belum merata di seluruh destinasi wisata pulau kecil.

Sepuluh Faktor Penentu Integrasi Ekonomi Biru dan Pariwisata

Berdasarkan hasil analisis, tim peneliti merumuskan sepuluh faktor yang perlu diperhatikan dalam mengintegrasikan ekonomi biru dengan pengembangan pariwisata pulau kecil. Kesepuluh faktor tersebut meliputi aksesibilitas, fasilitas dasar, cuaca dan kondisi laut, keselamatan perjalanan, pengelolaan lingkungan, kapasitas pelaku usaha, promosi, keterkaitan usaha lokal, diversifikasi pasar, serta diversifikasi mata pencaharian.

Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara integrasi wisata bahari dengan pengalaman wisata berkelanjutan, dukungan wisatawan, dan persepsi terhadap ketahanan destinasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterpaduan kegiatan wisata dengan aktivitas ekonomi masyarakat setempat berkaitan dengan pengalaman wisata yang lebih baik, dukungan pengunjung yang lebih kuat, serta persepsi yang lebih positif terhadap ketahanan destinasi.

Berdasarkan temuan tersebut, tim mengembangkan IITF ke dalam empat arah program, yaitu integrasi ekonomi lokal, pengalaman wisata berkelanjutan, dukungan dan ketahanan destinasi, serta tata kelola bersama.

Dalam jangka pendek, perbaikan aksesibilitas, penyediaan fasilitas dasar, dan peningkatan keselamatan perjalanan menuju pulau-pulau tujuan menjadi prioritas. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung kenyamanan wisatawan sekaligus memperkuat kesiapan destinasi dalam menghadapi tantangan wilayah kepulauan.

Tim peneliti juga menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada para pemangku kepentingan. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat infrastruktur akses, pasokan listrik, fasilitas dasar, dan layanan keselamatan. Pengelola destinasi perlu meningkatkan kualitas pengelolaan atraksi dan sampah serta menyesuaikan jadwal dan rute perjalanan dengan kondisi cuaca dan laut.

Sementara itu, pelaku usaha didorong untuk menghubungkan paket wisata dengan produk dan jasa usaha lokal, memperluas pemasaran digital, serta menjangkau pasar di luar pulau. Kalangan peneliti juga diharapkan melanjutkan validasi IITF bersama para pemangku kepentingan dan mengembangkan indikator ketahanan destinasi yang lebih objektif.

FGD Menjadi Tahap Validasi Model Pengembangan Destinasi

FGD ini menjadi bagian dari proses validasi IITF dengan melibatkan pemerintah daerah, pengelola destinasi, pelaku usaha, dan unsur masyarakat. Masukan dari para peserta akan digunakan untuk menyempurnakan kerangka model sebelum dikembangkan lebih lanjut sebagai salah satu rujukan dalam perumusan kebijakan pengembangan pariwisata pulau kecil di Bangka Belitung.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam artikel pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 3. Selain itu, tim peneliti juga sedang menjalani proses publikasi pada jurnal internasional. Luaran penelitian lainnya berupa buku berjudul Integrated Island Tourism dan Pariwisata Berkelanjutan.

Melalui penelitian ini, UBB berupaya berkontribusi dalam pengembangan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, serta meningkatkan ketahanan destinasi di wilayah kepulauan. Integrasi pariwisata dengan ekonomi lokal diharapkan dapat membuka peluang penghidupan yang lebih beragam bagi masyarakat pesisir sekaligus mendukung pembangunan pariwisata Bangka Belitung yang berkelanjutan. (Humas UBB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *