Dari Melon Kini Semangka, Kompos Produksi Lapas Pangkalpinang Terus Tunjukkan Kualitas

Pangkalpinang, kejarberitanews.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang kembali membuktikan kualitas kompos produksi sendiri setelah sebelumnya berhasil diaplikasikan pada budidaya melon madu. Kini, kompos tersebut juga mampu mendukung pertumbuhan semangka secara optimal di lahan marginal antara blok hunian seluas 160 meter persegi dan diprediksi akan panen sekitar 30 hari mendatang.

Kepala Lapas Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, mengungkapkan bahwa kompos organik tersebut berbahan dasar Fly Ash, limbah non-B3 hasil pembakaran batu bara yang diperoleh melalui kerja sama dengan PLTU 3 Bangka.

“Sebelumnya kami uji coba kompos ini pada budidaya melon madu dan berhasil memanen 30 kilogram di lahan seluas 12 meter persegi. Capaian tersebut terus kami kembangkan pada berbagai jenis tanaman produktif, salah satunya semangka yang saat ini tumbuh subur,” ungkap Sugeng, Selasa (12/5).

Tidak hanya itu, Sugeng menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar program pertanian, tetapi juga bagian dari pembinaan kemandirian Warga Binaan sekaligus tindak lanjut instruksi Direktur Jenderal Pemasyarakatan dalam mengimplementasikan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada poin kedelapan mengenai kemandirian pangan melalui program pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur.

“Kami berupaya mengubah lahan tidak produktif menjadi area yang bermanfaat. Keberhasilan melon dan semangka ini menunjukkan kompos Lapas Pangkalpinang memiliki kualitas baik untuk mendukung program ketahanan pangan,” tambahnya.

Sementara itu, petugas anggota jaga sekaligus pengawas kegiatan, Nono Agriantono, menjelaskan bahwa kompos Lapas Pangkalpinang menunjukkan hasil yang cukup baik terhadap pertumbuhan tanaman.

“Dari hasil yang kami lihat, tanaman semangka tumbuh subur dan perkembangan buahnya juga cukup bagus. Kompos ini mampu menjaga unsur hara tanah sehingga tanaman berkembang lebih optimal. Bahkan saya sendiri sudah mencoba mengaplikasikan kompos ini pada tanaman kelapa sawit milik pribadi dan hasilnya juga sangat baik,” jelas Nono.

Salah satu Warga Binaan berinisial A yang turut terlibat dalam proses budidaya mengaku mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru selama mengikuti kegiatan tersebut.

“Awalnya kami tidak menyangka kompos yang dibuat di dalam Lapas bisa menghasilkan tanaman sebagus ini. Pengalaman ini bisa menjadi bekal yang bermanfaat setelah bebas nanti,” harapnya.

Lembaga Pangkalpinang berharap penggunaan kompos organik dapat menjadi langkah positif dalam mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus memanfaatkan limbah menjadi produk yang bermanfaat.

Selain itu, pengelolaan lahan tidur secara optimal diharapkan mampu memberikan nilai manfaat sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi Warga Binaan. (kp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *