Dari Laut ke Ladang Ternak, Asep Merajut Asa Lewat Kambing Etawa

Berita, DAERAH13 Dilihat

Pangkalpinang, kejarberitanews.com — Pensiun bagi Asep Saepulloh bukan alasan untuk berhenti bergerak. Mantan perwira POM AL berpangkat Mayor Laut itu justru menemukan kesibukan baru di antara rumput, kebun, dan suara kambing di Desa Ciheulang Tonggoh, Kecamatan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat.

Tiga hari dalam sepekan, Jumat hingga Minggu, Asep bersama istrinya, Kapten Laut/W Tuti Mulyati, meninggalkan rumah mereka di Ciangsana, Bogor, menuju peternakan yang dirintis Asep menjelang masa pensiun. Di tempat itu, mereka mengurus kebun sekaligus memantau perkembangan kambing-kambing Etawa penghasil susu.

Pagi dimulai dengan mencangkul dan merawat tanaman. Sekitar pukul 08.00 WIB, perhatian beralih ke kandang. Dari semula 12 ekor kambing, termasuk seekor pejantan, kini ternak mereka berkembang menjadi 26 ekor. Enam di antaranya masih anakan yang kelak diharapkan menjadi bagian dari regenerasi ternak produktif.

Asep tak sekadar datang untuk melihat. Ia memeriksa kondisi ternak, pakan hingga kebersihan kandang. Semua itu ia diskusikan dengan Ujang Supardi, 45 tahun, pengelola peternakan yang sehari-hari bekerja bersama istrinya, Dede Herlina. Putri mereka, Novi, yang masih duduk di kelas 5 SD, sesekali ikut membantu sambil bermain dengan kambing-kambing di sekitar kandang.

Saat dikunjungi pada Sabtu, 26 September 2026, peternakan itu tampak asri. Yang menarik, hampir tidak tercium bau khas kandang kambing. Padahal, lokasinya berada tidak jauh dari permukiman warga.

“Desain kandangnya harus benar dan dibersihkan setiap hari. Kambing juga sering dimandikan,” kata Asep.

Kandang seluas sekitar 150 meter persegi berdiri di atas lahan kurang lebih 1.000 meter persegi. Sebagian lahan ditanami rumput odot untuk pakan, sementara bagian lainnya dimanfaatkan sebagai kebun sayur dan buah. Ada pula kandang ayam petelur Elba, rumah sederhana untuk keluarga Ujang, serta sebuah rumah permanen sekitar 45 meter persegi yang digunakan Asep dan Tuti saat berada di peternakan.

Bagi Asep, aktivitas itu bukan semata soal mengejar keuntungan. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan militer yang penuh aktivitas, ia tidak ingin masa pensiun diisi dengan duduk diam di rumah.

“Kalau kita tidak punya kegiatan, di rumah terus, makan, tidur, jarang bergerak, kondisi fisik dan mental bisa cepat turun,” ujarnya.

Dari situlah ia memilih tetap bekerja, belajar dan memiliki sesuatu yang harus dikerjakan setiap pagi.

Berawal dari Bektram

Ketertarikan Asep pada dunia peternakan muncul menjelang pensiun. Ia mengikuti Program Pembekalan Keterampilan (Bektram), program persiapan bagi prajurit yang memasuki masa purnatugas. Dalam program yang digelar Mabes TNI bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM itu, peserta diperkenalkan pada berbagai bidang usaha, mulai pertanian, perikanan hingga peternakan.

Pilihan Asep kemudian mengerucut setelah mengikuti kunjungan ke peternakan kambing perah di kawasan Caringin, Bogor. Ia melihat kambing Etawa menawarkan peluang usaha yang cukup menarik.

Berbeda dengan usaha penggemukan yang menunggu ternak siap dijual, kambing perah dapat menghasilkan susu selama masa produksi. Anak kambing pun memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Asep bahkan membeli kambing sebelum kandang di Ciheulang Tonggoh selesai dibangun. Untuk sementara, ternak tersebut dititipkan di peternakan Caringin. Setelah kandang siap, barulah seluruhnya dipindahkan.

Pasarnya pun mulai terbentuk dari lingkungan terdekat. Tuti yang masih berdinas di Komando Armada RI, Jakarta, sekaligus menjadi pemasar pertama. Susu yang dibawanya ke kantor selalu habis dan bahkan kerap dipesan lebih dahulu.

Menurut Tuti, sejumlah rekannya mengaku cocok dengan susu tersebut. Namun, pengalaman konsumsi setiap orang tentu berbeda dan manfaat kesehatan yang dirasakan konsumen tidak serta-merta dapat dianggap sebagai bukti khasiat medis.

Harga susu kambing dari kandang berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 per liter. Produksinya pun tidak selalu sama setiap hari karena kondisi kambing berbeda-beda. Ada induk yang bunting, baru melahirkan, atau telah memasuki akhir masa produksi.

Menariknya, tingginya harga susu kambing membuat Asep memilih menggunakan susu sapi sebagai pengganti susu induk untuk anak kambing setelah masa kolostrum. Anak kambing diberi kesempatan menyusu pada induknya selama sekitar sepekan untuk memperoleh kolostrum, kemudian disapih.

Ujang, Penjaga Kandang yang Amanah

Ketika Asep dan Tuti kembali ke Bogor, roda peternakan tetap berjalan. Ujang Supardi menjadi orang yang memastikan semua kebutuhan ternak terpenuhi.

Setiap hari ia menyediakan rumput, ampas tahu dan pakan tambahan, memantau kondisi induk dan anakan, sekaligus memerah susu pada pagi dan sore hari. Rumput odot yang ditanam di sekitar lahan juga menjadi sumber pakan yang membantu mengurangi ketergantungan dari luar.

Asep menyebut Ujang sebagai salah satu kunci keberlangsungan peternakan. Pengalaman sejak kecil mengurus kambing Etawa di Purwakarta membuat Ujang cukup memahami karakter ternak.

Dari Ujang pula muncul ide untuk mengolah kotoran kambing agar tidak menjadi limbah. Asep kemudian membeli mesin penggiling berbahan bakar diesel. Kotoran kambing dikeringkan, digiling, lalu dicampur dengan tanah dan debu untuk direncanakan menjadi pupuk kandang.

Pengembangan usaha masih berjalan bertahap. Penambahan indukan dan perluasan kandang menjadi rencana berikutnya, menunggu perkembangan usaha.

Mantan Komandan Detasemen POMAL Pangkalan AL Bangka Belitung itu pun tak menutup-nutupi kondisi keuangan peternakannya. Penjualan susu sejauh ini sudah membantu menutup biaya operasional, tetapi keuntungan bersih belum terlihat secara signifikan.

“Kalau untuk marginnya, ya, belum kelihatan,” katanya.

Namun, bagi Asep, sebuah usaha tidak selalu harus langsung berbicara tentang keuntungan besar. Di tahap awal, ketika kandang sudah mampu membiayai dirinya sendiri, itu sudah menjadi tanda bahwa usaha mulai menemukan pijakannya.

Dari laut tempat ia mengabdi, Asep kini menatap masa depan dari sebuah kandang sederhana. Bukan sekadar mencari kesibukan setelah pensiun, tetapi merawat harapan—setetes demi setetes susu Etawa.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *