Bangka Selatan, kejarberita-news.com — Media Nasional Kejar Berita melakukan kunjungan wisata sejarah ke Benteng Toboali pada Selasa, (10/02/26). Kunjungan ini dilakukan untuk menelusuri jejak sejarah peninggalan kolonial yang hingga kini masih berdiri di kawasan Tanjung Sabong, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Benteng Toboali merupakan benteng peninggalan masa penjajahan Belanda yang memiliki peran strategis sebagai pusat pertahanan wilayah selatan Pulau Bangka.
Benteng ini dibangun untuk melindungi aktivitas pertambangan timah dari ancaman serangan melalui jalur laut.
Lokasinya berada sekitar enam mil dari garis pantai, dengan luas kawasan kurang lebih 4,6 hektare yang membentang hingga kawasan Simpang Lima Toboali.
Dalam kunjungan tersebut, Media Nasional Kejar Berita mendapat penjelasan langsung dari Asnawi, warga Desa Teladan yang telah mengabdikan diri selama kurang lebih 15 tahun sebagai tenaga kebersihan sekaligus penjaga Benteng Toboali.
Dengan penuh ketelatenan, Asnawi memandu awak media menyusuri kawasan benteng sembari menjelaskan sejarah, fungsi bangunan, hingga kondisi terkini situs cagar budaya tersebut.
“Saya sudah sekitar 15 tahun menjaga dan membersihkan Benteng Toboali, sekaligus menjelaskan sejarahnya kepada pengunjung yang datang,” ujar Asnawi.
Menurut Asnawi, pada masa kejayaannya Benteng Toboali tidak hanya berfungsi sebagai pusat pertahanan, tetapi juga menjadi pusat penampungan timah, rumah sakit militer, serta tempat penyimpanan rempah-rempah seperti lada dan cengkeh.
“Benteng ini dulu sangat penting, bukan cuma untuk pertahanan, tapi juga untuk menyimpan timah dan rempah-rempah yang jadi komoditas utama saat itu,” jelas Asnawi.

Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran Benteng Toboali dalam mendukung aktivitas ekonomi dan militer pada masa kolonial.
Benteng Toboali memiliki tujuh bangunan utama yang masing-masing memiliki fungsi berbeda, yakni pos jaga, barak prajurit, gudang, ruang museum, ruang pengawas, ruang administrasi, dan dapur.
Sebagai sistem pertahanan, benteng ini juga dilengkapi dengan enam meriam. Namun, pada tahun 1994, tiga meriam diketahui dipindahkan ke Sungailiat, sehingga saat ini hanya tersisa tiga meriam di kawasan benteng.
Dari sisi sejarah kekuasaan, Benteng Toboali awalnya dibangun dan difungsikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Selanjutnya, benteng ini beralih ke penguasaan Jepang pada tahun 1943 hingga 1945 dan tetap digunakan sebagai pusat pertahanan wilayah selama masa pendudukan tersebut.
Memasuki tahun 2000-an, kondisi bangunan Benteng Toboali mulai mengalami kerusakan serius dan sebagian besar bangunan runtuh. Struktur bangunan aslinya menggunakan tanah liat dan batu karang sebagai material utama dinding bagian dalam, dengan kayu ulin sebagai penopang bangunan yang dikenal sangat kokoh.
Hingga kini, masih ditemukan sisa keramik asli peninggalan masa kolonial di beberapa bagian bangunan.
Benteng Toboali telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 1999, saat masih tercatat sebagai cagar budaya wilayah Jambi. Selanjutnya, status tersebut diperkuat sebagai cagar budaya Kabupaten Bangka Selatan pada tahun 2019.
Meski demikian, selama hampir dua dekade terakhir kawasan benteng terkesan terbengkalai dan minim perawatan, sehingga bebas diakses oleh masyarakat tanpa pengawasan memadai.
Secara fisik, di sisi kiri kawasan benteng masih terlihat bangunan dengan beberapa ruangan yang relatif utuh. Sementara di sisi kanan, bentuk bangunan sudah tidak terlihat jelas dan hanya menyisakan reruntuhan batu yang ditutupi lumut serta dirambati akar-akar pohon besar.
Pada bagian tengah kawasan, terdapat area terbuka dengan sisa bangku dan meja batu yang dahulu digunakan para prajurit untuk berkumpul atau makan bersama.
Di balik kondisi bangunannya yang kian rapuh, Benteng Toboali juga menyimpan berbagai cerita mistis yang hingga kini masih dipercaya masyarakat sekitar.
Cerita-cerita tersebut semakin menambah nilai historis dan daya tarik tersendiri bagi kawasan benteng sebagai destinasi wisata sejarah.
Di tengah minimnya perhatian, sosok Asnawi menjadi figur penting dalam menjaga keberlangsungan situs sejarah ini. Selama kurang lebih 15 tahun, ia dengan setia membersihkan dan menjaga kawasan Benteng Toboali.
Bahkan, Asnawi kerap menjadi rujukan informasi sejarah bagi pengunjung yang datang, termasuk awak Media Nasional Kejar Berita.
Pengabdian Asnawi dinilai layak mendapatkan perhatian dan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, khususnya Bupati Bangka Selatan. Peran yang dijalankan Asnawi tidak hanya sebatas menjaga kebersihan, tetapi juga berkontribusi besar dalam menjaga nilai sejarah dan edukasi di salah satu situs cagar budaya terpenting di Bangka Selatan.
Melalui kunjungan Media Nasional Kejar Berita ini, diharapkan Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap pelestarian Benteng Toboali, baik melalui perawatan fisik bangunan, pengamanan kawasan, hingga pemberian apresiasi kepada masyarakat yang selama ini dengan tulus menjaga warisan sejarah daerah.
Benteng Toboali diharapkan tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah yang edukatif dan bernilai budaya, sekaligus menjadi simbol komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga identitas sejarah Bangka Selatan.
Penulis: Dhea







