Pangkalpinang, kejarberitanews.com – Lapas Narkotika Kelas IIA Pangkalpinang terus mengembangkan program pembinaan kemandirian melalui kegiatan pertanian hidroponik. Hal ini diwujudkan melalui panen rutin sawi pakcoy di area branggang dalam Lapas yang menghasilkan sebanyak 50 kilogram, Senin (12/9/2026).
Kegiatan panen tersebut dilaksanakan bersama Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Pangkalpinang, Mufakhom, A.Md.IP., S.H., M.Si., sebagai bagian dari pemantauan dan pengembangan program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Program ini menjadi salah satu sarana bagi warga binaan untuk memperoleh pengalaman serta keterampilan praktis di bidang pertanian.

Panen sawi pakcoy hidroponik merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan di lingkungan Lapas menjadi kegiatan yang produktif. Melalui program ini, warga binaan didorong untuk terlibat dalam proses budidaya, mulai dari perawatan tanaman hingga masa panen, sehingga dapat memahami tahapan pertanian secara langsung.
Kalapas Narkotika Kelas IIA Pangkalpinang, Mufakhom, menyampaikan bahwa kegiatan pertanian hidroponik memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan komoditas pangan. Menurutnya, program tersebut menjadi wadah pembelajaran untuk menumbuhkan keterampilan, kedisiplinan, dan tanggung jawab warga binaan.
“Panen pakcoy hidroponik ini menjadi bukti bahwa program pembinaan kemandirian dapat menghasilkan kegiatan yang produktif dan bermanfaat. Kami ingin warga binaan memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar, mengembangkan keterampilan, serta membangun bekal kemandirian yang dapat diterapkan setelah kembali ke masyarakat,” ujar Mufakhom.

Kalapas menambahkan, selain mendukung pembinaan kemandirian, hasil panen tersebut turut berkontribusi terhadap upaya mendukung program ketahanan pangan di lingkungan Lapas. Pemanfaatan hasil budidaya diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang pemasaran produk pertanian yang dihasilkan melalui program pembinaan.
“Untuk menjaga keberlanjutan produksi, perawatan tanaman akan terus dilakukan secara rutin, meliputi pengecekan kondisi tanaman, pengontrolan nutrisi dan kualitas air, serta penanaman kembali. Langkah ini diperlukan agar budidaya hidroponik dapat terus berkembang dan menghasilkan panen secara berkesinambungan,” pungkasnya.
Pengembangan pertanian hidroponik melalui program SAE juga menjadi bagian dari upaya Lapas Narkotika Pangkalpinang dalam mengoptimalkan potensi yang tersedia. Dengan pendampingan dan pengelolaan yang berkelanjutan, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas keterampilan warga binaan di bidang pertanian.
Melalui panen rutin sebanyak 50 kilogram sawi pakcoy hidroponik ini, Lapas Narkotika Kelas IIA Pangkalpinang menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan yang produktif dan berorientasi pada masa depan. Dari kegiatan pertanian sederhana, warga binaan diharapkan memperoleh keterampilan, pengalaman, dan semangat kemandirian sebagai bekal untuk kembali berkontribusi positif di tengah masyarakat.(***)







